Barita Terbaru

Gallery PiGo


Archive

Related Items

Login Form





Error
  • You need to have Community builder installed if you enabled the community builder connection.
  • You need to have Community builder installed if you enabled the community builder connection.
  • You need to have Community builder installed if you enabled the community builder connection.
Saya ingin murid saya ada yang jadi jurnalis PDF Print E-mail
Written by Ivonne Suryanto   
Saturday, 30 October 2010 09:46

Sanie B. Kuncoro, seorang novelis, mengungkapkan bahwa awal mula ia tertarik menulis karena tugas mengarang yang diberikan oleh guru bahasa Indonesianya. Dari kisah hidup Sanie,  kita dapat melihat bagaimana guru bahasa Indonesia memiliki peran yang cukup penting untuk "mencetak" para penulis. Alasannya adalah tugas mengarang, salah satu materi yang mereka ajarkan, menjadi pondasi bagi para penulis "pemula" untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreatifitas  yang menjadi modal kuat seorang penulis.

Dra. Bernadetta Titik Supriyati (46), seorang guru Bahasa Indonesia di SMU Pius Bakti Utama Gombong, menuturkan kisah hidupnya selama 22 tahun membaktikan diri menjadi guru sekolah swasta Katolik satu-satunya di Gombong ini.

 

Keseharian yang menumbuhkan panggilan hidup

Sejak kecil, saya tertarik  mempelajari bahasa Indonesia. Mulanya saya hanya senang membaca, namun lama-lama ketagihan. Bahasa Indonesia sangat menarik, sebab bisa berbagi ilmu keseharian. Bahasa ini kan kita pakai sehari-hari!” ungkap Titik.

Kepada putra-putri, saya selalu menanamkan kecintaan pada bahasa Indonesia sejak kecil. Awalnya, mereka dibiasakan membaca, lalu diajari mengenal situasi, dan diceritakan dengan gaya sederhana yang bisa dipahami mereka,” kata ibu dua putra dan dua putri ini.

 

Saya hanya seorang guru biasa, tidak punya keahlian, tapi punya niat yang kuat untuk membantu generasi muda mendapatkan masa depan yang lebih baik. Saya selalu  menekankan kepada semua siswa, bahwa hari depannya harus lebih baik dari orang tuanya sekarang. Hal itu saya lakukan karena keinginan untuk  memotivasi mereka bahwa mereka  bisa hidup lebih baik dari kehidupan orang tuanya sekarang, kalau mereka mau berusaha. Mereka harus punya semangat yang kuat untuk mempersiapkan masa depannya,” tutur ibu guru yang suka menyanyi dan aktif dalam koor lingkungan maupun koor sekolah ini.

 

 

Kebanggaan seorang guru : murid-muridnya bahagia

Kebanggaan seorang guru kalau siswanya bisa hidup baik di masa depannya. Bukan imbalan materi yang kami harapkan, tetapi kami akan ikut bahagia, kalau  mantan murid kami berbahagia hidupnya. Tetapi kami sedih, jika mantan murid kami  tidak mendapat pekerjaan yang baik, hidup mereka tidak karuan,” cerita ibu guru kelahiran Kulon Progo 9 Juli  1964 ini  Karena kedekatannya dengan kaum muda,  Titik mendapat tugas menjadi seksi kepemudaan di Gereja Katolik Santo Mikael Gombong.

Saya juga menekankan pendidikan yang baik bagi anak-anak saya, Pensiun seorang guru tidak mungkin mewarisi harta. Maka saya selalu berharap  anak-anak saya bisa menuntut ilmu lebih tinggi, untuk membekali hidup mereka kelak. Sebagai seorang istri dan ibu saya selalu mengutamakan biaya pendidikan anak di prioritas pertama.  Puji Tuhan anak sulung saya Andreas Indardianto (Andre) kini sudah bekerja sebagai editor di penerbit Graha Ilmu Yogyakarta, anak kedua saya Rosalia Indardianti Chairina (Rosa), kuliah di Jurusan Ekonomi UNY, anak ketiga saya Giovanni Pradipta Mahardika (Fanni) kini duduk di kelas 2 SMA Pius BU Gombong dan anak bungsu saya Kristoforus  Nanda Mahardhian (Kristo) kini duduk di  kelas  1  SD Pius Bakti Utama Gombong,” cerita  Titik bahagia.

 

Kehidupan seorang guru di tengah keluarga dan masyarakatnya

Tahun ini kami memasuki usia perkawinan tahun ke-25. Kami menikah di Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux  Boro tanggal 31 Mei 1985. Saya dengan suami  bertekad mempersiapkan masa depan anak-anak  dengan lebih baik. ‘Kerikil-kerikil’ dalam keluarga, kami anggap sebagai batu sandungan yang harus saya singkirkan, agar selalu bersama-sama  mengasuh anak-anak kami. Janji pernikahan yang kami ucapkan dua puluh lima tahun yang lalu juga menjadi pondasi dan kekuatan untuk kesetiaan saya dan suami,” kata istri Yohanes Mardiyanto ini sambil tersenyum penuh syukur. Lebih lanjut Titik menuturkan kekagumannya kepada suaminya : “Puji Tuhan, suami saya selalu memberi kebebasan bagi saya untuk berkreasi dan berkarya sesuai hobi dan bakat saya. Hobi saya membaca dan bakat saya menyanyi, memberi semangat orang lain, dan lancar berbicara,” kata  Titik sambil tertawa.

Dalam bermasyarakat dimana pun saya berada,  saya selalu punya prinsip, bagaimana saya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saya tidak boleh mengubah lingkungan atau orang-orang di sekitar saya ketika saya memasuki lingkungan baru. Tapi saya yang harus beradaptasi  dengan mereka. Maka dengan siapa saja, saya akan berusaha menerima keadaannya apa adanya,” kata Titik yang aktif di koor, kegiatan kemasyarakatan PKK, dan seksi kepemudaan Paroki St. Mikael Gombong ini.

 

Modal hidup : wawasan luas, kemauan kuat dan ketekunan

Saya ingin  murid saya ada yang pandai menulis,  bahkan jadi jurnalis, namun sayangnya minat anak terhadap hal itu jarang ada. Saya berpendapat bahwa seorang jurnalis adalah seorang yang berwawasan luas karena bisa membagi pengalaman dan kebijaksanaan hidup lewat bahasa tulis yang baik. Selain itu menjadi jurnalis tidak perlu modal materi, modalnya hanya banyak membaca sehingga pengetahuannya luas, kemauan yang kuat, dan ketekunan. Jadi siapa saja pasti bisa, tidak memandang kaya maupun miskin, asal punya kemauan menulis, pasti bisa menopang kehidupannya kelak,” kata Titik penuh semangat.

Melihat latar belakang ekonomi muridku yang pas-pasan, maka aku mendorong murid-muridku agar mempunyai ketrampilan menulis, dengan harapan semoga bisa membantu mempersiapkan masa depan mereka,” tutur Titik sambil menerawang jauh. ”Namun syukurlah saat ini ada murid saya yang tertarik dengan jurnalistik. Gadis itu   bernama Nessy Felicia. Dia sering menemui saya dan bertanya bagaimana caranya menulis yang baik,” tutur Titik dengan sorot mata bahagia.

 

Mengasah diri supaya makin bisa berbagi

Selain mengajar Titik juga selalu belajar tentang hal yang dia ajarkan. Misalkan dia akan mengajar tentang membuat narasi (cerita) maka dia akan membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembuatan narasi. ”Apalagi kini ada internet sehingga saya mudah mencari bahan untuk mengajar,” ungkap Titik senang.

Namun di sisi lain Titik juga mengalami pergumulan. ”Awal aku mengajar, aku merasa pesimis, apakah aku mampu membimbing muridku untuk terampil menulis? Selain itu aku juga ragu-ragu apakah ilmu yang kusampaikan pada muridku dapat digunakan? Namun dalam perjalanan waktu, aku yakin bahwa suatu saat harapanku untuk melihat muridku menjadi jurnalis akan tercapai,” ungkap Titik penuh keharuan. Penulis melihat  setitik air mata bening mengalir di kelopak mata Titik.

 

Hari ini harus lebih baik dari kemarin

Sebagai seorang guru bahasa Indonesia, Titik mempunyai kiat-kiat bagi para generasi muda yang  ingin menjadi jurnalis. Pertama,  ikutilah pelatihan jurnalistik. Saat ini Keuskupan Purwokerto secara teratur mengadakan pelatihan jurnalistik. Kaum muda bisa mempergunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mendapat ilmu dasar-dasar jurnalistik.

Kedua,  mereka tidak  boleh putus asa bila tulisan ditolak atau tidak dimuat, karena tidak dimuat tidak berarti tulisan mereka jelek, namun karena kesempatan untuk dimuat belum ada.

Ketiga,  ikutilah ekskul Majalah Dinding (Mading) yang hampir selalu ada di sekolah-sekolah. Dengan menulis di majalah dinding dengan karya sendiri, tidak menjiplak dan mengutip dari majalah remaja,  para murid bisa melatih diri untuk menulis dengan bahasa yang menarik, tidak berlebihan, dan mampu meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Akhirnya, mereka hendaknya mempercayai bahwa Tuhan selalu menyediakan cara selama kita mau berusaha,” pungkas ibu guru yang mempunyai motto hidup ’hari ini harus lebih baik dari kemarin’ sambil menutup obrolan ini.


rssfeed
Email Drucken Favoriten Twitter Facebook Myspace Stumbleupon Digg MR. Wong Technorati aol blogger google reddit YahooWebSzenario

Comments

avatar Nessy Felicia
+1
 
 
Semoga cita-cita saya menjadi seorang penulis novel dapat tercapai.. amin..
avatar tri
+1
 
 
Ivonne, bagus tulisannya... mantaps deh..!!!
avatar Herlinda Mipur Marindang
+1
 
 
boleh buka forum alumnus nggak? pengen nih sharing dan berbagi pengalaman.. hahhaa buat Bu Titik, saya mengikuti jejak Anda menjadi guru B.Indonesia.. wahahahha :D
Please login to post comments or replies.
Last Updated on Saturday, 30 October 2010 10:07